Pernahkah kita merasa sangat sedih karena kehilangan sesuatu yang berharga? Mungkin nilai ujian turun atau kehilangan barang favorit. Nabi Muhammad SAW pun pernah merasakannya. Beliau mengalami Amul Huzni (Tahun Kesedihan) setelah wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib.
Di tengah titik terendah itulah, Allah SWT memberikan “undangan eksklusif” untuk perjalanan paling luar biasa sepanjang sejarah: Isra Mi’raj.
1. “Supercar” dari Surga bernama Buraq
Perjalanan ini dimulai pada malam hari. Bayangkan, dari Makkah (Masjidil Haram) ke Palestina (Masjidil Aqsa) yang jaraknya ribuan kilometer, ditempuh hanya dalam sekejap mata! Kendaraannya bukan pesawat jet, melainkan Buraq.
Bagi kita santri, Buraq adalah simbol bahwa kalau Allah sudah berkehendak, kun fayakun, hukum fisika pun bisa terlewati. Kecepatannya sejauh mata memandang. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah menjadi imam bagi seluruh nabi. Ini adalah momen gathering terbesar para utusan Allah!
2. “Level Up” Menembus Tujuh Lapis Langit
Setelah dari bumi, Rasulullah naik ke langit dalam peristiwa Mi’raj. Di setiap pintu langit, beliau bertemu dengan “kakak kelas” atau para nabi pendahulu:
Ada Nabi Adam di langit pertama,
Nabi Isa dan Yahya di langit kedua,
Sampai Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
Ini bukan sekadar kunjungan, tapi tanda bahwa perjuangan dakwah itu bersambung. Setiap nabi memberikan semangat kepada Rasulullah. Puncaknya adalah Sidratul Muntaha, tempat paling indah dan rahasia yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun, bahkan Malaikat Jibril sekalipun.
3. Diplomasi Shalat: Bukti Cinta Rasul kepada Kita
Nah, ini bagian yang paling seru. Di puncak Mi’raj, Allah memerintahkan shalat 50 waktu. Bayangkan kalau itu tetap 50 waktu, mungkin kita tidak akan sempat makan di kantin, ngobrol-ngobrol atau main bola karena harus shalat terus!
Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah bolak-balik meminta keringanan kepada Allah. Bukan karena beliau malas, tapi karena beliau sangat peduli dan cinta kepada kita, umatnya yang akhir zaman ini. Akhirnya, jadilah 5 waktu yang kita jalankan sekarang. Meski cuma 5 kali, pahalanya tetap dihitung seperti 50 kali. Privilege banget, kan?
4. Pesan untuk Santri Zaman Now
Apa yang bisa kita petik dari Isra Mi’raj?
Shalat adalah “Mi’raj”-nya Orang Beriman: Kalau Rasulullah naik ke langit untuk bertemu Allah, kita cukup gelar sajadah. Shalat adalah cara kita “telepon” langsung ke Sang Pencipta tanpa perlu kuota internet.
Habis Gelap Terbitlah Terang: Sesedih apapun kondisi kita sekarang (mungkin lagi kangen rumah atau pusing hafalan), ingatlah bahwa Allah punya cara ajaib untuk menghibur hamba-Nya yang sabar.
Check & Recheck Informasi: Saat Rasulullah kembali, banyak orang kafir yang mem-bully dan menyebutnya bohong. Tapi Abu Bakar langsung percaya. Sebagai santri, kita harus cerdas membedakan mana kebenaran dan mana hoax.
Isra Mi’raj bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Ini adalah bukti bahwa mukjizat itu nyata dan shalat adalah oleh-oleh paling berharga dari langit. Jadi, masih mau bolong-bolong shalatnya? Yuk, perbaiki lagi shalat kita sebagai tanda syukur kita jadi umat Nabi Muhammad SAW!
0 Komentar